Selasa, 08 September 2009

"Merah di Senayan"

Beberapa hari belakangan ini atau bahkan sebulan terakhir ini, media-media di Indonesia dihiasi dengan berita tentang rencana kedatangan klub Premiership Inggris Manchester United. Berita tentang kedatangan The Red Devils ini setidaknya bisa menyaingi berita-berita tentang kekisruhan daftar pemilih tetap pada Pemilu Presiden 2009. Bahkan dihari-hari menjelang kedatangan United seperti hari-hari ini, salah satu stasiun televisi swasta yang menjadi satu-satunya official broadcaster pertandingan antara Indonesian All Stars melawan Manchester United menyajikan program tayangan khusus menjelang laga yang disebut oleh Nurdin Halid sebagai pertandingan paling akbar yang pernah dilakoni oleh Tim Nasional Indonesia.
Euforia tentang laga ini memang telah menyihir sebagian besar pecinta sepakbola di tanah air. Salah satu teman saya bahkan sejak dua bulan yang lalu telah meminta ayahnya untuk menyiapkan tiket pertandingan dengan posisi tempat duduk yang paling strategis untuk pertandingan yang akan digelar di Gelora Bung Karno senayan pada 20 Juli ini.
Memang bisa dikatakan laga ini merupakan hiburan yang paling besar di tahun 2009 walaupun sebelumnya para pecinta sepakbola negeri ini mendapat ”Hiburan” pula berupa gelar juara Piala Kemerdekaan yang diraih Tim Nasional berkat aksi walkout Tim Nasional Libya yang merasa ”Dipukuli” oleh Official Tim Nasional Indonesia di lorong menuju ruang ganti pemain pada jeda babak kedua pertandingan tersebut.
Namun apakah hiburan kelas wahid sepakbola ini berjalan tanpa alasan tertentu? Apakah kedatangan tim asuhan Sir Alex Ferguson ini murni untuk menghibur fans United yang merupakan fans dengan jumlah terbanyak ketiga di dunia ini? Saya rasa tidak, kepentingan bisnis yang diusung oleh salah satu merk apparel sepakbola yang menjadi sponsor United lah yang mempunyai pengaruh besar atas pertandingan ini. Betapa tidak, United mau menyambangi Indonesia karena tuntutan sponsor tersebut yang melihat potensi penjualan merchandise mereka di Indonesia. Walaupun pecinta The Red Devils tidak akan memadati seluruh Senayan karena pasti masih ada bahkan sebagian besar pasti datang ke Senayan untuk mendukung Tim Garuda, namun setidaknya perandingan itu akan membuat mind set pecinta sepakbola tanah air akan berubah setelah menyaksikan pertandingan tersebut. setidaknya penjualan jersey ataupun merchandise united lainnya akan terdongkrak secara signifikan di masa yang akan datang.
Dibalik kontroversi tersebut, seluruh masyarakat indonesia mengharapkan suguhan pertandingan yang menarik, menghibur bahkan dapat membuat Boas Salossa dan kawan-kawan memetik pelajaran berharga dari aksi gocekan Ryan Giggs maupun kokohnya tembok pertahanan yang digalang oleh Rio Ferdinand. ”Seharusnya sih kedatangan United ke Indonesia dapat memberikan pelajaran yang berharga buat para pemain Indonesia, agar level permainan Timnas bisa lebih baik dari saat ini,” Ujar presenter Dona Agnesia dalam salah satu wawancara dengan stasiun tv swasta. Semangat 43 tahun yang lalu saat Anjas Asmara dan kawan-kawan menahan United 0-0 di tempat yang sama juga diharapkan menjalar ke segenap tubuh punggawa tim garuda. Agar gawang Ferry Rotinsulu ataupun Markus Horison tidak menjadi bulan-bulanan dari Wayne Rooney ataupun Dimitar Berbatov.
Kita pun mengharapkan keringat yang mengucur dari dahi sebelas pemain yang menggunakan lambang garuda di dada kiri mereka ini tidak menjadi sia-sia. Tidak hanya untuk menjadi ”Sapi perah sesaat” industri sepakbola yang tengah ganas-ganasnya ini. Namun juga bisa menjadi momentum penting kebangkitan Tim Nasiona Indonesia yang digadang-gadang mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. walaupun pemain yang bermain pada pertandingan ini dirasa mustahil untuk bermain di piala dunia tersebut jikalau Indonesia benar-benar dipercaya FIFA untuk menggelar event akbar tersebut, namun setidaknya spirit mereka di lapangan dapat membuat para pemain Tim Nasional Indonesia nantinya mampu berjuang di lapangan menghadapi lawan layaknya semangat Perang Puputan Masyarakat Bali di era Kolonial Belanda.
Kita semua berharap ada pelajaran yang dapat dipetik setelah pertandingan ini. Pelajaran yang mungkin dapat membawa Tim Nasional kebanggaan kita berlaga di level tertinggi. Pelajaran yang membuat para pemain liga kita menghormati segala bentuk keputusan yang terjadi dalam sebuah pertandingan. Bukan pelajaran yang membuat kita dan anak cucu kita menjadi konsumen industri sepakbola kapitalis. Semoga Saja.

Jumat, 10 Juli 2009

"A Special Day"


Jika hari itu beberapa orang menganggap sebagai hari yang spesial, buat saya hari itu tidak banyak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Yang membuat menjadi sedikit berbeda hanyalah hari itu saya bangun cukup pagi untuk menghirup udara segar dan juga sedikit berolahraga di depan rumah. Namun kebanyakan orang di sekitar saya telah sibuk mempersiapkan diri mereka menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS), termasuk juga kedua orang tua saya.
Tepat sekali, hari itu adalah tanggal 8 Juli 2009. Dimana hari yang banyak orang anggap sebagai hari yang sangat bersejarah karena diadakan Pemilihan Presiden Republik Indonesia secara langsung untuk kali kedua. Saking bersejarahnya, ketika saya melihat berita di salah satu stasiun televisi swasta, saya tercengan karena ada seorang ibu yang akan menamakan anaknya ”PEMILUWATI” karena anaknya lahir pada hari itu. Sebuah alasan yang menurut saya sangat tidak dapat dibenarkan karena pemilu sama sekali tidak memberikan filosofi kuat dalam kehidupan anak tersebut kelak.
Saya pun tidak lantas larut dalam euforia pesta demokrasi tersebut, setelah segar karena berolahraga saya memilih untuk kembali ke tempat tidur lalu melanjutkan tidur saya yang mirip dengan Napoleon Bonaparte itu, yang hanya tidur selama tiga jam. Sebenarnya saya agak sedikit malas untuk beranjak dari tepat tidur dan menuju ke TPS, namun teriakkan dari kedua orang tua sayalah yang membuat saya mau tidak mau harus segera ke bilik suara itu. Sebelumnya saya memang sudah mempunyai pilihan, jadi tak memerlukan waktu lama saya langsung mencontreng ketika melihat salah satu calon yang mempunyai kumis seperti para orang kepercayaan Hitler di era Rezim Nazi kala itu.
Ini hanya masalah pilihan, toh walaupun calon yang saya pilih itu kalah, saya tidak merasa ikut menjadi kalah pula. Saya justru merasa menang karena keberhasilan pesta demokrasi ini adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia termasuk saya. Itulah yang membuat saya malas menanggapi telepon dari kakak saya yang berujar ”Gimana tuh jagoan lu? Koq cuma dapet 12 % doang?” saya hanya memberikan argumen seperti ini ”Delapan puluh persen pemilih di Indonesia pendidikannya hanya sampai SMA, dan dua puluh persen lainnya lebih tinggi. Dua puluh persen itulah yang saya kira memilih pasangan yang mendapatkan 12% suara itu dan selebihnya memilih dua pasangan calon yang lainnya,” sambil saya menutup telepon saya. Saya rasa argumen saya tadi cukup jelas sehingga saya memilih untuk mengedit beberapa foto hasil jepretan EOS 40D saya ketimbang menanggapi omongan kakak saya yang selalu menyanjung calon presiden yang berasal dari kalangan militer tersebut.
Bagi saya, masalah politik tidak terlalu spesial. Saya lebih tertarik denga masalah sepakbola tentunya. Maka dari itu jika orang-orang menganggap hari itu spesial karena bertepatan dengan Pemilihan Presiden Republik Indonesia secara langsung, saya menganggap hari itu spesial karena hari itu saya kembali merumput bersama tim sepakbola rumah saya setelah absen selama 3 bulan.
Dan semoga saja pemimpin yang terpilih nanti dapat membawa Indonesia ke arah yang benar dan ke posisi yang semestinya. Semoga.

Kamis, 18 Juni 2009

Mimpi Bayu menjadi 'Garuda Muda'


“Nyari lapangan bola di Jakarta sekarang susah, udah pada jadi beton semua,” celoteh Bang Dullah kepada Hari dan Bayu ketika mereka bertiga bersusah payah mencari tanah lapang untuk Bayu berlatih guna persiapan seleksi Timnas Indonesia U-13. Sampai pada akhirnya mereka menemukan sedikit celah kosong di antara deretan batu nisan di sebuah pemakaman yang kurang terurus. Sesulit itukah generasi muda bangsa kita mencari tanah lapang untuk mengembangkan potensi emas mereka menggocek si kulit bundar? Mungkin itu hanya sedikit gambaran tentang sulitnya rintangan yang harus ditaklukan untuk bisa menjadi duta sepakbola Indonesia.
Ini adalah impian tentang anak bangsa yang ingin memberikan sumbangsihnya kepada bangsa dan negara. Ini adalah mimpi dua orang sahabat yang mempunyai obsesi menjadi satu dari sebelas pemain yang berhak memakai kaos berlambang garuda di dada sebelah kiri mereka. Bayu dan Hari adalah kedua anak tersebut. Bayu yang mempunyai bakat luar biasa yang mengalir dari darah ayahnya yang juga seorang pesepakbola, yang diakhir kariernya harus menelan pil pahit karena cedera yang dialaminya membuat ia hanya mengakhiri kariernya sebagai supir taksi. Dan hal itulah yang membuat kakek Bayu sangat mebenci sepakbola dan melarang keras Bayu menjadi seorang pesepakbola. Sedangkan Hari di umurnya yang masih 12 tahun adalah seorang penggila bola sejati dan mempunyai obsesi yang sangat besar untuk bisa bermain sepakbola, namun keterbatasan fisik memupuskan harapan Hari tersebut.
Kedua sahabat ini mempunyai harapan yang besar untuk bisa menjadi starting eleven dari skuad ’garuda muda’. Namun alasan yang berbeda yang dimiliki oleh kedua anak tersebut seakan menutup pintu mereka untuk menuju Gelora Bung Karno. ”Kakek saya bilang sepakbola Indonesia tidak bermutu, saya datang kesini untuk membuktikan kalau hal itu salah,” teriak Bayu kepada Pak Johan Lestaluhu, seorang pelatih SSB yang pertama kali sadar akan kemampuan luar biasa Bayu di atas rumput hijau dan yang pada akhirnya menjadi penunjuk jalan bagi Bayu menuju gerbang senayan. Karena dia pula yang memberikan bayu kesempatan berlatih di SSB yang dia asuh sehingga memungkinkan Bayu untuk mengikuti seleksi Timnas. Lika-liku yang harus dilewati Bayu cukuplah rumit, berasal dari keluarga ekonomi menengah dengan mengandalkan sang ibu yang seorang penggiat multy level marketing dan harus selalu berada di bawah tekanan sang kakek yang sangat terobsesi menjadikan bayu seorang seniman. Namun hal tersebut tidak membuat Bayu patah arang, dengan bantuan dari Hari, ia memapakai jalan terjal menuju Tim Nasional.
Film ’Garuda di Dadaku’ adalah sebuah cerminan betapa keingingan dan kerja keras dapat memungkinkan kita untuk mewujudkan impian yang pada awalnya mustahil untuk kita wujudkan. Saya memberikan apresiasi yang besar terhadap film ini karena memberikan bukti bahwa sepakbola adalah cara yang paling jujur untuk membuktikan bahwa bangsa kita sebenarnya masih layak untuk dihargai. Dan sepakbola adalah mimpi bagi setiap anak bangsa ini, mimpi yang dapat membawa mereka terbang gagah layaknya ’Sang Garuda’. Ayolah para garuda muda tunjukkan pada dunia bahwa Indonesia bukan sekumpulan pecundang yang hanya bisa bermimpi.

Rabu, 10 Juni 2009

Tarkam, Refleksi Perseepakbolaan Kita?

“Gak seru, berantemnya kurang banyak ben,” seloroh Mono sesaat setelah wasit meniup peluit tanda usainya pertandingan 2x35 menit itu. Saat itu Gue dan Mono yang merupakan penikmat tarkam sejati baru saja selesai menyaksikan pertandingan sepakbola tarkam yang diadakan di salah satu lapangan di kawasan Cinere, Depok.

Memang turnamen ini hanya berkelas tarkaman (antar kampung -red) saja, namun bagi warga sekitar, atmosfer pertandingannya bisa dikatakan setara dengan gelaran Piala Eropa sekalipun. Memang kelasnya hanya sebatas Piala Walikota, tidak seperti Piala Raja yang bertajuk Copa Del Rey yang dimiliki masyarakat Spanyol di Eropa sana. Tetapi banyak hal menarik yang bisa kita temui dalam turnamen sepakbola dengan ”kasta rendahan” ini. Tengok saja para partisipan dalam turnamen ini, mulai dari klub tingkat RT bahkan sampai akademi Sepakbola Villa 2000 yang belum lama ini ditaklukan Sao Paolo Junior di Tokyo International Tournament pun ikut ambil bagian di dalamnya.

Nggak heran kalo Mono melontarkan kalimat seperti apa yang gue tulis di awal catatan singkat ini. Karena pada saat kita berdua masuk melewati pagar yang terbuat dari bambu dan seng yang menjadi batas ”stadion dadakan” ini, kedua tim yang tengah berlaga sedang sibuk adu argumen yang biasanya menjurus ke arah keributan, entah apa pemicunya, yang jelas hal ini merupakan bumbu wajib dalam sebuah pertandingan tarkam. Tarkam memang tersohor dengan adu jotosnya, bahkan penonton pun bisa ikut ambil bagian dari keributan dalam sebuah pertandingan jika kedua tim tidak menyuguhkan pertandingan yang menarik untuk ditonton. ”Gak bosen emang lu no kalo peratandingannya ribut terus?” tukas gue ke Mono ”Justru di situ seni-nya Ben, kita mendapatkan suguhan sepakbola plus-plus dengan atraksi tinju, taekwondo ama silat, lumayan kan cuma dengan goceng kita bisa menyaksikan beberapa pertandingan sekaligus,” timpal mono sambil ngakak. Tanpa maksud menyindir kompetisi nasional kita yang melakukan hal serupa dengan apa yang terjadi di turnamen tarkaman ini.

Namun disamping terkenal lewat aktifitas negatif tersebut, tarkaman juga mempunyai andil besar dalam melahirkan pemain-pemain yang berseliweran di kasta tertinggi sepakbola nasional bahkan sampai level tim nasional. Entah berapa banyak pemain liga nasional bahkan tim nasional yang lahir dari turnamen semacam ini. Tengok saja nama-nama seperti Firman Utina, Muhammad Robby, Ben-Ben Berlian ataupun Talouhu A. Musafri. Praktis mereka lahir dari kerasnya kompetisi tarkam ini.

Mungkin tradisi kisruh kompetisi Liga Indonesia berakar dari tradisi tarkaman ini, tapi ah udahlah gue ga mau malahan jadi ngebahas liga nasional kita yang worst banget itu.

Yang paling bikin Gue tertarik ama tarkaman adalah dengan tiket yang sama rata Rp.5000an, kita bisa bebas memilih dari sudut mana kita menyaksikan pertandingan, mulai dari tepat di belakang gawang dimana kita bebas menganggu konsentrasi sang penjaga gawang bahkan sampai berada sedikit melawati garis lapangan di setiap sisi lapangan. Tidak ada istilah VIP yang menjadi border kelas sosial ekonomi seperti yang terjadi di setiap stadion di seluruh belahan bumi ini. Yang ada hanya setiap penonton punya hak yang sama untuk menyaksikan pergelutan 22 orang di atas rumput hijau.

Bahkan ketika kita telah membeli tiket dan memasuki arena tarkaman ini, kita seakan mempunyai hak pula untuk mencemooh serta mengintimidasi pemain dan wasit jika mereka menampilkan performa yang buruk. Sekejam itukah tarkaman ini? Tentu tidak, sepakbola adalah sesuatu yang sangat maskulin. Jadi selalu ada alasan untuk melakukan hal-hal diluar batasan filosofi sepakbola itu sendiri. Itulah sedikit gambaran tentang sebuah turnamen yang walaupun skalanya kecil ini namun memiliki andil yang cukup besar bagi perjalanan sejarah sepakbola di negeri kita. Tarkam adalah sebuah refleksi kehidupan sepakbola kita yang sesungguhnya, jadi jika ingin tahu bagaimana sepakbola rakyat yang sesungguhnya, cobalah untuk menyaksikan sebuah pertandingan tarkam. hehe .