Jumat, 10 Juli 2009

"A Special Day"


Jika hari itu beberapa orang menganggap sebagai hari yang spesial, buat saya hari itu tidak banyak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Yang membuat menjadi sedikit berbeda hanyalah hari itu saya bangun cukup pagi untuk menghirup udara segar dan juga sedikit berolahraga di depan rumah. Namun kebanyakan orang di sekitar saya telah sibuk mempersiapkan diri mereka menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS), termasuk juga kedua orang tua saya.
Tepat sekali, hari itu adalah tanggal 8 Juli 2009. Dimana hari yang banyak orang anggap sebagai hari yang sangat bersejarah karena diadakan Pemilihan Presiden Republik Indonesia secara langsung untuk kali kedua. Saking bersejarahnya, ketika saya melihat berita di salah satu stasiun televisi swasta, saya tercengan karena ada seorang ibu yang akan menamakan anaknya ”PEMILUWATI” karena anaknya lahir pada hari itu. Sebuah alasan yang menurut saya sangat tidak dapat dibenarkan karena pemilu sama sekali tidak memberikan filosofi kuat dalam kehidupan anak tersebut kelak.
Saya pun tidak lantas larut dalam euforia pesta demokrasi tersebut, setelah segar karena berolahraga saya memilih untuk kembali ke tempat tidur lalu melanjutkan tidur saya yang mirip dengan Napoleon Bonaparte itu, yang hanya tidur selama tiga jam. Sebenarnya saya agak sedikit malas untuk beranjak dari tepat tidur dan menuju ke TPS, namun teriakkan dari kedua orang tua sayalah yang membuat saya mau tidak mau harus segera ke bilik suara itu. Sebelumnya saya memang sudah mempunyai pilihan, jadi tak memerlukan waktu lama saya langsung mencontreng ketika melihat salah satu calon yang mempunyai kumis seperti para orang kepercayaan Hitler di era Rezim Nazi kala itu.
Ini hanya masalah pilihan, toh walaupun calon yang saya pilih itu kalah, saya tidak merasa ikut menjadi kalah pula. Saya justru merasa menang karena keberhasilan pesta demokrasi ini adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia termasuk saya. Itulah yang membuat saya malas menanggapi telepon dari kakak saya yang berujar ”Gimana tuh jagoan lu? Koq cuma dapet 12 % doang?” saya hanya memberikan argumen seperti ini ”Delapan puluh persen pemilih di Indonesia pendidikannya hanya sampai SMA, dan dua puluh persen lainnya lebih tinggi. Dua puluh persen itulah yang saya kira memilih pasangan yang mendapatkan 12% suara itu dan selebihnya memilih dua pasangan calon yang lainnya,” sambil saya menutup telepon saya. Saya rasa argumen saya tadi cukup jelas sehingga saya memilih untuk mengedit beberapa foto hasil jepretan EOS 40D saya ketimbang menanggapi omongan kakak saya yang selalu menyanjung calon presiden yang berasal dari kalangan militer tersebut.
Bagi saya, masalah politik tidak terlalu spesial. Saya lebih tertarik denga masalah sepakbola tentunya. Maka dari itu jika orang-orang menganggap hari itu spesial karena bertepatan dengan Pemilihan Presiden Republik Indonesia secara langsung, saya menganggap hari itu spesial karena hari itu saya kembali merumput bersama tim sepakbola rumah saya setelah absen selama 3 bulan.
Dan semoga saja pemimpin yang terpilih nanti dapat membawa Indonesia ke arah yang benar dan ke posisi yang semestinya. Semoga.